Sertifikat Profesi Itu Seberapa Pentingkah Manfaatnya Bagi Siswa SMK?

Sertifikat Profesi  itu seberapa pentingkah manfaatnya bagi siswa SMK Sehingga Pemerintah wajibkan bekali siswa dengan sertifikat profesi khususnya dari BNSP?

Sertifikat menurut KBBI adalah tanda atau surat keterangan (pernyataan) tertulis atau tercetak dari orang yg berwenang yang dapat digunakan sebagai bukti pemilikan.

Sertifikat pada jaman dahulu hanya di butuhkan oleh Bank sebagai jaminan kredit, tetapi semakin bertambah majunya perkembangan jaman, sertifikat bukan saja digunakan sebagai alat bukti kepemilikan tapi berkembang menjadi bukti pengakuan. Salah satu contoh dalam suatu lomba ternyata tidak berhasil menjadi juara maka masih diakui pernah ikut lomba dengan menerima sertifikat sebagai peserta.

Sertifikat, pasti juga mempunyai nilai lebih. kenapa tidak, lihat saja contoh yang tidak di sangka-sangka adalah Akik, dahulu akik hanya bernilai estetis dengan harga yang relatif proporsional.  Sekarang menjadi tidak terjangkau ketika bersertifikat. Lantas, Bagaimana dengan Sertifikat Profesi?

Sedangkan Menurut Wikipedia Sertifikat Profesi adalah suatu penetapan yang diberikan oleh suatu organisasi profesional terhadap seseorang untuk menunjukkan bahwa orang tersebut apakah sudah layak dan mampu untuk melakukan suatu pekerjaan atau tugas spesifik. Sertifikasi biasanya harus diperbaharui secara berkala, atau dapat pula hanya berlaku untuk suatu periode tertentu. Sebagai bagian dari pembaharuan sertifikasi, umumnya diterapkan bahwa seorang individu harus menunjukkan bukti pelaksanaan pendidikan berkelanjutan atau memperoleh nilai CEU (continuing education unit).

Karena ingin mendapat pengakuan, akhirnya membuat para petinggi dunia pendidikan kejuruan merasa galau ketika para siswa SMK belum mempunyai sertifikat keahlian. Hal tersebut dikarenakan banyaknya pertanyaan dari para orang tua murid dan juga alumni siswa siswi SMK yang merasa galau saat mereka telah lulus sekolah. Kalau hanya lulus untuk mendapatkan ijazah apa bedanya dengan SMA? Toh lulusan SMA dan SMK ketika masuk dalam dunia kerja sama-sama masih level operator, itupun sama-sama harus mengikuti training dan tahapan-tahapan yang sama. Tidak ada yang spesial membedakan antara lulusan siswa SMK dengan lulusan siswa SMA. Jadi seberapa pentingkah sertifikat keahlian itu bagi pemegangnya khususnya bagi siswa SMK? Jawabnya tentu penting untuk mereka yang Kompetensi Profesinya mendapat pengakuan, dan tidak penting bagi orang yang masih belum memahami bahkan belum mengerti tujuan karir masa depannya kelak.

Pada prinsipnya perangkat regulasi yang terkait dengan sertifikasi profesi ini sudah ada semenjak tahun 2003. Dimulai dari UU No 13/2003 tentang Ketenaga kerjaan, PP No 23/2004 tentang Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), PP No 31/2006 tentang Sistim Pelatihan Kerja Nasional dan Per Pres No 8/2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia dan di tambah puluhan Peraturan menteri yang lebih memperjelas. Jadi kurang lebih selama 15 tahun masyarakat kita menganggap “Belanda masih jauh”. Itulah yang di sebut kurang mempunyai kepedulian. Menganggap semua itu belum ada manfaatnya atau kurangnya “kepekaan terhadap sebuah suasana”. Hingga pada puncaknya saat MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) mulai di implementasikan. Dan tentu saja sudah bisa di tebak, masyarakat gagap menghadapinya.

Sungguh bertolak belakang dengan masyarakat negara tetangga, Cina. Awal tahun 2010 serbuan barang-barang cina membuat kalang kabut mulai dari DPR sampai tingkat paling bawah yaitu produsen lokal. Sebagian masyarakat menganggap pemerintah melakukan pembiaran dengan masuknya produk Cina tanpa dikenai pajak impor yang berakibat murahnya semua produk Cina. Anehnya, banyak orang tidak mengetahui bahwa di awal tahun yang sama itu pula dimulailah FTA (Free Trade Agreement) dengan Cina. Jadi kira-kira setahun sebelum FTA, pemerintah Cina mensosialisaikan kepada rakyatnya bahwa setahun lagi semua hasil produk Cina bebas masuk ke Indonesia tanpa terkena pajak impor. Maka hari itu juga semua produsen Cina menambah kuantity untuk di gelontorkan di tahun berikutnya. Dampaknya bisa kita rasakan dimana serbuan produk-produk Cina sampai detik ini masih membuat puyeng semua produsen kompetitor.

Lantas apa sih hubungannya dengan Siswa-siswi SMK dengan sertifikasi profesi itu sendiri sehubungan dengan diberlakukannya MEA? Silahkan saksikan Video Alasan Pentingnya Bekali Siswa dengan sertifikasi Profesi berikut ini:

Sebagai mantan penguji eksternal dari beberapa SMK, Program Percepatan Sertifikasi Profesi sebenarnya merupakan sebuah program yang “biasa saja”. Jauh sebelumnya, SMK selau memberikan sertifikat kepada siswa sesuai kompetensi/jurusan.

Sebagai mantan penguji eksternal dari beberapa SMK, Program Percepatan Sertifikasi Kompetensi sebenarnya merupakan sebuah program yang “biasa saja”. Jauh sebelumnya, SMK selau memberikan sertifikat kepada siswa sesuai kompetensi/jurusan.

Pemberian sertifikat diberikan setelah para siswa mengikuti Ujian Nasional Kompetensi Kejuruan (UNKK). Memang harus diakui bahwa di kemudian hari sertifikat tersebut relatif tidak bernilai meskipun logo dari industri pemberi sertifikat tertera jelas di lembar sertifikat. Hal ini bisa di buktikan dengan tidak terserapnya para siswa di tempat industri pemberi sertifikat. Sampai saat ini saya melihat tidak semua dunia industri merekrut siswa SMK karena keahlian apalagi mempunyai sertifikat. Cukup hanya butuh fisik yang prima, sikap terpuji, kecerdasan sedikit diatas rerata dan sedikit pengetahuan ketrampilan sudah cukup untuk meloloskan siswa ke dunia industri untuk kemudian perusahaan akan mendidik ke bagian mana akan di pekerjakan.

Bila memang kenyataannya demikian, masih perlukah BNSP memberikan sertifikat profesi ke siswa SMK? Dalam jangka panjang tetaplah suatu keharusan. Apalagi bila di kaitkan dengan negara kita yang sudah membuat Perjanjian Pengakuan Kesetaraan dengan negara ASEAN. Tetapi untuk jangka pendek, Program Percepatan Sertifikasi Kompetensi masih jauh panggang dari api. Banyak penyakit kronis yang harus disembuhkan dulu sebelum mengajak bejalan cepat. Jika toh dipaksakan pasti akan jadi bumerang ketika logo Garuda dari BNSP ternyata tidak berbanding lurus dengan kemampuan siswa. Pingin tahu penyakit kronis yang saya maksud? Ini faktanya: Uji Kompetensi Keahlian (UKK)pada SMK merupakan bagian Ujian Nasional yang menjadi indikator ketercapaian standar kompetensi lulusan, sedangkan bagi stakeholder akan dijadikansebagai informasi atas kompetensi yang yang dimiliki siswa sebagai calon tenaga kerja.Sebegitu seriusnya UKK, sampai Mendikbud mengatur kritetria kelulusan dengan mengeluarkan Permendikbud RI No 144/2014). Adapun teknis pelaksanaannya di atur oleh Badan Standar Nasional Pendidikan/BSNP (Jangan salah dengan BNSP. BSNP, Standar Pendidikan BNSP, Standar Profesi). Mulai dari Kisi-kisi uji kompetensi, verivikasi Tempat Uji Kompetensi /TUK sampai lembar penilaian, semuanya terstruktur dan sistimatis. Artinya bila acuan yang di pakai persis seperti yang tertulis pada BSNP, maka validitas nilai tak ada yang meragukan lagi. Lebih jelas lagi bila aturan dari BSNP di tegakkan, maka BNSP tak perlu membuat Program Percepatan Sertifikasi Kompetensi. Hanya di perlukan verifikasi untuk mengganti sertifikat reguler menjadi sertifikat berlogo Garuda. Anekdot, peraturan dibuat untuk di langgar dalam prakteknya berlaku di UKK ini. Dimulai dari sambutan Top Menejemen sekolah yang berbau breafing membuat para penguji eksternal tertawa masam. Akhirnya para penguji eksternal dalam posisi terjebak sehingga sulit untuk mencerminkan “Brand” perusahaan yang dia wakili. Bukan tentang kualitas “work skill” mereka, tapi lebih karena “sense of humanism”. Rasa manusiawi melihat TUK yang tidak layak, kualitas siswa yang dominan di bawah rerata dan yang terberat tentu nilai yang diberikan oleh penguji eksternal, menentukan kelulusan siswa. Semuanya berbaur sehingga destinasi nilai menjadi “bim salabim”. Memang tidak semua penguji eksternal mempunyai sense of humanism, terkadang dengan nilai idialis (di bawah rerata maksudnya) yang dia berikan ke siswa membuat pontang panting lembaga. Dibutuhkan lobi-lobi bila terjadi seperti ini. Biasanya penguji eksternal model seperti ini tidak akan di “pakai” untuk tahun berikutnya. Bagaimana dengan penguji internal yang di ambil dari Guru mereka sendiri? Apa perlu di jelaskan? Kesimpulannya, untuk mempunyai sertifikat profesi kata kuncinya adalah “Work Skill”, dan itu hanya bisa di bangun oleh Guru. Wa bil khusus Guru Sertifikasi. Jadi dalam jangka pendek, BNSP belum urgen untuk memberi siswa SMK sertifikat berlogo Garuda. Sebaliknya dari pihak BSNP tidak hanya membuat aturan saja tapi turun ke bawah melihat kenyataan dan mengevaluasinya. untuk Lembaga Sekolah, sense of crisis adalah satu paket dengan sense of belonging dan sense of responsibilty. keduanya harus ada sebelum muncul sense of crisis.

Dengan ini kami juga mengundang Bapak / Ibu yang ingin meningkatkan Kompetensi serta mendapat Pengakuan atas Kompetensi Bapak / Ibu sebagai Asesor Kompetensi dan atau atau Profesional Trainer (TOT) yang akan diselenggarakan pada Bulan Juli 2017.

Silahkan Klik Link Berikut Untuk Informasi Diklat :

  1. Asesor Kompetensi
  2. Profesional Trainer (TOT)

 

TINGKATKAN DAYA SAINGMU DENGAN SERTIFIKASI BERBASIS KOMPETENSI DARI BNSP BERIKUT INI :

 

One thought on “Sertifikat Profesi Itu Seberapa Pentingkah Manfaatnya Bagi Siswa SMK?

  1. Penjelasannya jelas sekali
    Kami juga mengalami kondisi seperti tertulis diatas sebagai PENGUJI EKSTERNAL….rasanya seperti TERJEBAK…harus meluluskan dan memb
    eri nilai tinggi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*