Berpikir Brilian: Berani Berpikir Secara Berbeda!

Sertifikasibnsp.com – Berpikir Brilian: Berani Berpikir Secara Berbeda!

Tanpa kita sadari kita hidup dengan kebiasaan.  Setiap pagi kita bangun di sisi tempat tidur yang sama.  Kita mengenakan jenis pakaian yang sejenis dengan hari sebelumnya, kita menyantap sarapan yang serupa, kita duduk di mobil yang sama, dan kita menempuh jalur yang sudah biasa kita lalui.  Bahkan ketika kita sudah sampai ditujuan kita, kitapun masih berpikir dengan kerangka yang sama dengan hari kemarin.  Ternyata sebagian besar pemikiran kita memiliki pola yang seragam – yaitu analitis, kritis dan berpusat pada otak kiri.  ini merupakan pola operasi normal kita dan menghambat diri sendiri dengan membatasi cara berpikir ini sama sekali bukan hal yang baik.  Sebenarnya, ada banyak cara berpikir lain yang dapat kita gunakan untuk mengekspresikan pemikiran kita.

Kita mengekspresikan pemikiran dengan menggunakan kata-kata.  Merupakan hal yang sepertinya wajar apabila kita ingin mengucapkan sesuatu, menggunakan kata-kata, dan menulis memo, e-mail, dan laporan rutin sehingga jarang sekali kita berhenti sejenak untuk memikirkan cara lain yang lebih baik untuk melakukan sesuatu.

Baiklah, mari kita mulai membahas cara berpikir Konvergen dan Divergen.  Cara berpikir Konvergen merupakan cara berpikir normal yang biasa kita lakukan.  Ketika mendengar sebuah masukan, naluri kita memerintahkan untuk menelaahnya, mengkritik, dan menganalisa konsekuensi-konsekuensi yang mungkin terjadi.  Kita membawa asumsi dan kerangka berpikir kita sendiri dalam bertindak dan menempatkan gagasan-gagasan baru yang datang ke dalam kerangka pikir tersebut.  Sebaliknya, cara berpikir Divergen membuat kita melangkah menjauhi topik utama masalah keberbagai arah.  Ketika menggunakan cara berpikir divergen, kita akan mampu melahirkan berbagai macam gagasan yang tidak berhubungan dengan tantangan awal yang sedang dihadapi atau konsep yang tengah diperbincangkan.  Kita memperluas garis batas pemikiran dan membiarkan imajinasi kita menghasilkan begitu banyak kemungkinan yang berbeda-beda, termasuk gagasan yang liar dan tidak masuk akal.

lebih jauh lagi, kita memiliki kecenderungan yang kurang baik untuk hanya melihat dan mengumpulkan bukti-bukti yang mendukung keyakinan kita, dan menolak atau mengabaikan bukti-bukti yang bertolak belakang dengan keyakinan kita.  Hal ini sesuai dengan hasil eksperimen psikolog terkenal yang dilakukan oleh Peter Watson di Unisity of London.  Ia menunjukkan sebuah urutan berisi tiga buah angka pada para mahasiswanya – 2, 4, 6 – dan mengatakan bahwa angka-angka tersebut telah sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.  Para mahasiswa kemudian ditugaskan untuk mencari tahu aturan apa yang berlaku pada ke tiga urutan angka tersebut dengan menguji coba beberapa kumpulan angka yang juga terdiri atas tiga buah angka.  Untuk masing-masing percobaan yang dilakukan, Watson akan memberi tahu para mahasiswa tersebut apakah kumpulan tiga buah angka yang mereka tebak atau uji coba juga memenuhi aturan yang telah ia tetapkan atau tidak.  Dan hasilnya sebagian besar mahasiswa melakukan pola yang sama yang telah diberikan oleh Watson.  Para Mahasiswa tersebut terkunci pada upaya untuk menemukan pola yang teratur dari sebuah deretan angka.  Faktanya, aturan yang disampaikan oleh Watson sangatlah sederhana, yaitu membuat angka yang harus mengalami kenaikan nilai (bukan urutan)!

hal ini mungkin juga sering terjadi pada diri kita, dimana kita menggunakan asumsi diri kita sendiri tanpa mengolah terlebih dahulu perintah yang disampaikan.  Sikap mental ini mencerminkan cara kita memandang dunia.  Kita memiliki sekumpulan kepercayaan dan asumsi, dan kita mencari bukti-bukti yang mendukung pola pikir kita.  Jika yakin bahwa seluruh tupai berwarna abu-abu, maka setiap kali kita melihat seekor tupai berwarna abu-abu, keyakinan kita semakin mengkristal.  Mencari tupai yang berwarna abu-abu bukanlah tes yang baik untuk menguji aturan tersebut.  Yang harus kita lakukan adalah mencari seekor tupai yang tidak berwarna abu-abu.

Fakta tersebut bila ada kita menemukan seekor tupai yang tidak berwarna abu-abu akan menyalahi aturan yang kita tetapkan namun akan menambah pengetahuan baru bagi kita.  Para pemikir brilian memahami bahwa ada banyak cara pandang di dunia ini dan masing-masing tidaklah lengkap.  POla berpikir kita saat ini akan membingkai cara pandang kita terhadap dunia ini, namun kita juga harus siap untuk mengakui bahwa pola berpikir yang kita anut hanyalah satu dari begitu banyak cara berpikir di dunia ini.

Sir Isaac Newton mendefinisikan kembali pemahaman kita tentang dunia dengan hukum gravitasi dan gerak yang ditemukannya.  Hukum ini merupakan model yang hebat dan memenuhi kebutuhan ilmu pengetahuan selama berabad-abad hingga Albert Einstein memperbaharuinya dengan teori relativitas umumnya.  Padangannya tentang jagad raya ini terus-menerus ditelaah dan akan direvisi seiring dengan berkembangnya teori-teori baru.

Einstein mengatakan, “Imajinasi adalah lebih penting ketimbang pengetahuan.” Cara berpikir Divergen memungkinkan kita untuk menggunakan imajinasi dalam mengeksplor berbagai kemungkinan-kemungkinan baru.  Cara berpikir Konvergen akan membuat kita menggunakan pengetahuan yang kita miliki guna menelaah konsep-konsep dan melihat di tempat mana konsep-konsep tersebut akan berguna.  Sayangnya, kita memiliki kecenderungan alamiah untuk menolak gagasan-gagasan lain apabila tidak sejalan dengan pengetahuan dan sistem kepercayaan atau keyakinan yang kita miliki.

Apabila dari awal kita mencampuradukkan cara berpikir konvergen dan cara berpikir divergen, maka gagasan-gagasan yang baru akan dimunculkan akan langsung dievaluasi dan dikritik, hal tersebut akan segera merusak daya krativitas yang kita harapkan.  Para pemikir konvensional biasanya terjebak dalam cara berpikir konvergen, namun para pemikir yang brilian mampu memanfaatkan kedua cara berpikir ini.  Bagaimana dengan Anda sendiri?

 

Berpikir Brilian: Berani Berpikir Berbeda dengan Mengikuti Pelatihan Sertifikasi Asesor Kompetensi 2017

Berani Berpikir Berbeda Dengan dimulainya MEA pada akhir tahun 2015 telah terjadi banyak Berpikir Brilian: Berani Berpikir Secara Berbeda!perubahan, termasuk dalam persaingan di dunia industri. Agar bisa bersaing dengan tenaga kerja asing maka setiap tenaga kerja Indonesia diharapkan memiliki sertifikasi profesi.

Dalam proses sertifkasi profesi pemerintah membutuhkan banyak asesor. Asesor adalah seseorang yang berhak melakukan asesmen terhadap suatu kompetensi, sesuai dengan ruang lingkup asesmennya.

Segera daftarkan Diri Anda untuk mengikuti Pelatihan & Sertifikasi Asesor Kompetensi dengan menghubungi: 0813 69996065 (WA) dan atau Daftar Online dengan klik Link berikut: PENDAFTARAN ONLINE  /  DOWNLOAD FORM PENDAFTARAN.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*